Ada beberapa hal yang membuat kuil ini populer:
Pertama, faktor sejarahnya yang sudah lebih dari 1000 tahun, bahkan hampir 1300 tahun.
Kedua, karena faktor keindahan dari kuil ini.
Ketiga, kuil ini memiliki banyak legenda yang menarik sekali untuk ditelusuri satu persatu.
![]() |
| Kuil Kiyomizudera |
Kuil Kiyomizudera ini telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage Site dan Historic Monuments of Ancient Kyoto.
Legenda Kiyomizudera Temple
Sejarah kuil Kiyomizudera konon sudah dimulai sejak tahun 778. Pada saat itu, seorang pendeta Budha bernama Enchin mendapat visi untuk pergi ke sungai Yodo.
Disana dia bertemu dengan seorang pertapa bernama Gyoei yang memberinya sebuah kayu yang berisi roh Kannon Bosatsu. Kayu ini kemudian diukir membentuk patung Kannon, dan Enchin pun mendirikan bangunan sederhana untuk memuja patung tersebut.Dalam perkembangannya, kuil ini pun sedikit demi sedikit mengalami perluasan, dan sempat juga hancur setelah terkena peristiwa kebakaran berkali-kali. Akhirnya pada tahun 1633, shogun ketiga, yaitu Iemitsu Tokugawa, membangun ulang bangunan-bangunan yang telah hancur. Dan saat ini mayoritas bangunan yang masih berdiri di kuil Kiyomizudera merupakan hasil rekonstruksi yang dilakukan pada tahun tersebut.
Secara literal, Kiyomizudera dapat diterjemahkan sebagai Pure Water Temple, ini karena lokasi kuil ini memang berada di sekitar air terjun Otowa yang telah ada sejak kuil ini dibangun, dan masih terus mengalir hingga saat ini.
![]() |
| Air terjun Otowa |
Memasuki Kiyomizudera pertama akan melewati kandang kuda tua yang dulunya digunakan oleh mereka yang datang ke kuil ini untuk berdoa pada Kannon Bossatsu. Setelah melewati kandang kuda, akan terlihat sebuah gerbang megah, gerbang tersebut bernama Nio-mon, atau Deva Gate (Gate of the Deva Kings).
![]() |
| Nio-mon (Deva Gate) |
![]() |
| Sai-mon (West Gate) |
Sanjunoto tersebut tepat berada di belakang Sai-mon, dan memiliki gaya arsitektur yang khas: perpaduan antara arsitektur Cina dan Jepang.
![]() |
| Sanjunoto |
![]() |
| Pagoda Koyasu |
Dari Pagoda Sanjunoto, dapat mengambil jalan melingkar dan melewati menara lonceng, atau Shoro. Menara ini sudah dibangun sejak tahun 1596, jadi termasuk salah satu bangunan tertua yang ada di kompleks kuil ini. Bangunannya berwarna merah, dengan lukisan bunga Krisan pada bagian sebelah atasnya.
Untuk bel-nya, sebetulnya sudah berasal sejak tahun 1478. Namun pada tahun 2008 bel asli dari kuil ini disimpan di ruang harta, dan bel yang terlihat saat ini adalah bel baru yang berusia 4-5 tahun
![]() |
| Menara Loceng |
![]() |
| Stage Main Building |
Mitos Kuil
Di
komplek kuil ada juga kuil-kuil khusus diantaranya Jishu jinja yang
dipersembahkan untuk Okuninushino-Mikoto sang dewa cinta. Konon
kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 m
kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau
memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita
akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita
dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan
mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta
atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain.
Kuil ini juga
menyediakan beberapa altar dimana kita bisa menuliskan permasalahan kita, harapan kita, ke sebuah kertas berbentuk orang-orangan, lalu meletakannya di air. Atau menuliskan nama orang yang akan kita doakan pada sebuah papan kecil dan digantung pada tempat yang sudah disediakan.
Dibawah bangunan utama ada air terjun Otowa no taki yang
terdiri dari 3 aliran yang menuju ke taman. Pengunjung yang meminum air
suci tersebut diyakini akan mendapat 3 kemujuran dalam hal kesehatan,
panjang umur dan sukses studi.
Didalam komplek kuil banyak juga hal-hal menarik diantarnya pendongeng, dupa perapian dan o-mikuji (jimat keberuntungan).
source: internet
photo by Tanny Taher















No comments:
Post a Comment